Kisah Nabi Yunus, Nabi yang Hidup Meski Dibuang ke Laut dan Ditelan Ikan Paus

Nabi Yunus AS merupakan salah satu nabi yang Allah utus ke tanah Irak untuk meluruskan jalan agama penduduknya dari penyembahan berhala. Dikenal pula dengan nama Jonah di dalam bahasa Inggris atau Yonah dalam bahasa Ibrani, Nabi Yunus as rupanya lahir di Gath-hepher pada abad ke sembilan sebelum masehi dan ketika meninggal beliau dimakamkan di Mosul, Irak. Seperti apa kisah Nabi Yunus dan kaumnya? Yuk, simak ulasannya.

Siapakah Nabi Yunus AS?

Tidak hanya dihormati di dalam agama Islam, nabi Yunus as juga sangat dihormati di dalam agama Kristen maupun Yudaisme. Diperkirakan, Nabi Yunus hidup di masa 820 – 750 SM dan merupakan satu dari beberapa nabi dalam agama Samawi. Bagi yang belum tahu, agama Samawi adalah agama yang mana merupakan cikal bakal dari Islam, Kristen, dan Yahudi. Kisah hidup Nabi Yunus diabadikan di dalam Al-Qur’an dalam QS Yunus.

Sebagaimana nabi lain sebelum beliau yang menjadi utusan Allah, Nabi Yunus pun juga diperintahkan untuk berdakwah kepada suatu kaum yang ada di daerah Nainawi. Daerah ini merupakan sebuah kota besar yang berada di Mosul, Irak yang mana penduduknya sudah tidak beriman dan berpaling dari jalan Allah dengan menyembah berhala.

Kisah Perjuangan Nabi Yunus AS dan Mukjizat yang Dimilikinya

Kisah nabi dalam berdakwah memang selalu tidak mudah. Alih-alih diterima dan berhasil mengajak penduduk Nainawi bertobat, Nabi Yunus yang datang saat kaumnya sedang melakukan ritual sembah berhala pun juga diejek, dihina, dan diusir. Hal ini membuat Allah SWT meminta Nabi Yunus untuk memberitahu kepada kaumnya bahwa akan ditimpakan suatu azab pada mereka.

Namun, ucapan Nabi Yunus ini hanya dimentahkan dan dianggap gurauan. Alhasil, beliau pun memilih untuk pergi meninggalkan kaumnya dan menyerah terhadap mereka. Nabi Yunus yang sudah terlanjur marah dan kecewa memutuskan naik kapal meski Allah sejatinya tidak mengizinkan beliau untuk pergi dari daerah dakwahnya.

Alhasil, kapal yang dinaiki oleh Nabi Yunus terkena ombak besar dan terombang-ambing di tengah lautan. Agar kapal mereka selamat, para penumpangnya pun memutuskan melemparkan barang-barang bawaan mereka ke laut agar beban kapal berkurang. Sayangnya, barang-barang yang sudah dilempar itu ternyata belum cukup untuk mengurangi beban. Akhirnya, para penumpang pun sepakat bahwa akan ada satu orang yang dilempar ke laut dengan cara pengundian. Sayangnya, nama Nabi Yunus lah yang keluar.

Tahu bahwa itu adalah Nabi Yunus dan mereka tidak sampai hati melemparkannya ke laut, maka para penumpang kapal itu pun mengundi lagi. Hasilnya tetap, nama Nabi Yunus yang keluar dalam undian meski sudah tiga kali dilakukan pengulangan. Dengan pasrah, Nabi Yunus pun menceburkan dirinya ke laut dan Allah menyambutnya dengan mengirimkan seekor ikan paus untuk menelannya tanpa mematahkan tulang atau merobek daging sang Nabi.

Saat berada di dalam perut sang ikan, Nabi Yunus tidak bisa melihat apapun dan hanya ada kegelapan saja. Disana juga tidak ada makanan untuk dikonsumsi. Terjadi perdebatan ulama tentang berapa lama sang Nabi berada di dalam perut ikan tersebut. Qatadah, Nabi Yunus ditelan ikan paus selama 3 hari, namun menurut Abu Ja’far Ash-Shaadiq, lama harinya adalah seminggu penuh. Bahkan menurut Abu Malik, Nabi Yunus ada di dalam perut ikan selama empat puluh hari lamanya.

Lantaran tidak dapat berbuat apa-apa di dalam perut ikan paus, maka Nabi Yunus pun larut dalam pikirannya. Disana, ia menyadari bahwa kemalangan yang menimpanya ini adalah buah dari ketidaksabarannya sebagai Nabi dalam menghadapi keburukan kaumnya. Akhirnya, beliau pun memohon ampun kepada Allah SWT dan berdoa seperti yang ditulis dalam QS Al-Anbiyaa’ ayat 87 dan 88.

Di dalam surat tersebut, Allah mengingatkan kepada hamba-Nya akan kisah Dzun Nun (Nabi Yunus) yang marah kepada kaumnya dan kemudian ditimpa kesulitan. Dalam keadaan tergelap, sang nabi akhirnya menyadari kesalahannya dan memohon untuk diselamatkan agar bisa memperbaiki diri. Oleh sebab itu, Allah pun benar mengeluarkan Nabi Yunus dari dalam perut ikan paus dengan menyerukan kepada ikan itu untuk memuntahkan sang Nabi ke pinggir laut yang bertanah tandus dalam keadaan seperti anak burung yang telanjang dan tidak berambut.

Nabi Yunus pun keluar dengan keadaan sakit. Allah pun memberi berkahnya dengan menumbuhkan pohon sejenis labu agar bisa dikonsumsi dan dijadikan tempat berteduh Nabi Yunus sesuai dalam QS Ash-Shaaffaat ayat 145 dan 146. Ketika pohon itu mengering, Nabi Yunus menangis dan Allah pun menegur sang Nabi bahwa ia menangisi satu pohon yang mengering dibandingkan ratusan ribu orang kaumnya yang terancam dibinasakan Allah.

Akhirnya, Nabi Yunus mematuhi perintah Allah untuk kembali kepada kaumnya karena mereka sudah bertaubat. Rupanya, ketika sang Nabi Yunus pergi, Allah bermaksud mendatangkan azab kepada para penduduk Nainawi. Namun, mereka tersadar akan azab Allah yang nyata dan bertobat serta berdoa agar Allah tidak menimpakan kepedihan-Nya. Allah yang Maha Penyayang pun menerima taubat mereka sebagaimana yang tertulis dalam QS Yunus ayat 98 dan dalam QS Ash-Shaaffaat ayat 147 dan 148.

Demikian ulasan mengenai kisah Nabi Yunus. Semoga bermanfaat.